berlari terus raga ini berlari kencang, sambil angan melayang seperti daun menguning yang jatuh ditempa angin dan melayang mengikuti kemana sang angin membawa. terkadang angin berhenti berembus dan daun kering itu tersungkur ketanah disana ia menemukan daun-daun lain yang mengalami nasip serupa dengannya. daun kuning coba menyapa daun yang lain namun daun itu ditiup oleh angin lagi dan iyapun terbang kembali meninggalakan daun yang lain. sang angin kenapa kau begitu kejam pada daun? tak bisakah kau membiarkan daun untuk sekedar bertanya kabar pada daun lain. daun hanya tak pernah menyalahkan angin hingga suatu ketika angin berhenti berhembus dan daun itu jatuh tersungkur untuk yang kesekian kalinya. namun kini daun sendiri ditempat yang gelap dan tanpa angin berhembus lagi. lirih daun bernyanyi dan akhirnya mati...
nasip tak sekejam itukan? nasip tak akan membawaku kekematian yang gelap. itu hanya secuil ujian tuhan yang mengajari aku tentang arti kehidupan. hidup bukan panggung sandiwara yang harus selalu memiliki akhir crita bahagia. namun hidup itu mengajari kita akan kehidupan bahagia, sedih, kecewa, amarah, luka, dan penenang jiwa yang berontak.
tuhan menciptakan manusia, bumi, dan alam semesta untuk mengajari manusia tentang kehidupan. bodoh kiranya aku tak mengambil pelajaran dan mencoba bertahan dikerasnya hidup. selalu ada celah untuk aq bernafas meski saat aku terperangkap dalam batuan padat. selalu ada celah untuk air dan akar memecah sang batu. selalu ada waktu buat angin perlahan mengikis dan menciptakan pola luar biasa diatas sang batu. lihat betapa hebat kekuatan mereka. mereka terlihat lemah namun dibalik kelemahan mereka mampu menghancurkan dunia dan mengindahkan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar