Rabu, 22 Oktober 2014

rindu pada hujan

panas...
terik mentari ganas memangsa bumi. tepat dihadapanku, hamparan tanah gersang merekah dalam sekali sampai keperut bumi.angin tak lagi terasa sepoi.dalam hati berbisik lirih 'angin kemana kau bawa awan? apakah awan telah melupakanku?'.hanya diam yang di jawab angin sambil berlalu pergi tanpa permisi.

tanah gersang rindu pada awan pembawa butir-butir uap hitam. biar awan berwarna hitam dan petir menggelegar mencambuk tanah, tanah tak pernah benci pada awan. ada rasa saling membutuhkan diantara mereka yang takmampu terungkap oleh kata, kalimat maupun bait-bait puitis sang pujangga.

rindu akan bau basah tanah. rindu pada kesejukan dan kesegaran air yang mulai mengering dari sumbernya. ditanahku.. tanahku kini mulai gersang..

jika tanah tak mampu bertemu hujan kuatkah tanah? akankah tanah berubah menjadi gurun yang gersang tanpa kehidupan, hanya depermainkan oleh angin yang menggores lembut pasir halus sehingga membentuk pola abstrak maha dasyat. tanah dan gurun itu sama, mereka berada dibumi yang sama.

gurun dan tanah sama mereka merupakan simbol kesetiaan. tanpa lelah dalam senyap jagat raya selalu lantunan indah doa-doa yang hanya mampu dimengerti dan didengar oleh sang pencipta diamini oleh ribuan malaikat yang menghantarkan doa-doa dan harapan dihadapan pencipta.

masih ditempat yang sama meski berubah wajah tanah tak pernah lelah menunggu hujan...seperti gurun menunggu hujan.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar